Oleh ReO Fiksiwan
“Kehidupan saat ini (bukan kehidupan sebagaimana seharusnya dijalani) adalah tindakan siklus yang sia-sia, sebuah gerakan tanpa tujuan!” — Ali Shariati(1933-1977), Hajj(1978).
Apa yang bisa direfleksikan pada tahun baru Islam: 1 Muharam?
Tahun, di mana gencatan senjata Iran Israel atas perintah Amerika, mirip jeda pertunjukan. Bukan akhir.
Tahun, di mana amalan baik, buruk dan pahala, perlu rekalkulasi. Apalagi, untuk hal-hal, kecil-besar, tak terhitung bahkan terabaikan agar trayek spiritual selama ini perlu ditilik lagi spidometernya?
Ibarat mereparasi mobil tua, trayek spiritual satu-satunya trayek jeda perjalanan panjang yang butuh istirah perbengkelan untuk mengganti atau memperbaiki suku cadang jiwa yang sudah aus.
Tak sedikit, khususnya para mualaf–setelah bertahun-tahun mengubah trayek spiritual dari keyakinan semula–mereka mau berbondong-bondong agar segera mengganti suku cadang jiwanya.
Sebut saja, haji atau umroh. Salah satu suku cadang dari hakikat teknologi rukun iman yang ingin segera ditunai, baik para mualaf maupun bukan. Meski jadwal reguler haji ke depan, jika didaftar hari ini, seorang calon jamaah haji harus antri 40 tahun nanti.
Tundalah fantasi trayek berat dan panjang itu. Ayo berpaling pada para mualaf. Mereka, level pesohor dunia seperti penulis Micheal Wolfe(80), mendiang Roger Garaudy(filsuf), Leopold Weiss(diplomat), Muhammad Ali(boxer), Malcolm X(aktivis), Maryam Jameelah(feminist), rocker Muhammad Michael Kinght(48), Mike Tyson(58), Jeffry Lang(71), profesor matematika hingga artis Angelina Jolie(50) maupun Oprah Winfrey(71), tentu ada hasrat menempuh trayek tersebut.
Di sini, meski batal sebagai calon haji furodah(atas undangan Raja Saudi Arabi), Ruben Onsu(41) tak sendiri di antara 2000 calon; ada lagi dr. Richard Lee, Deddy Cobuzier, Angelina Sondakh, Dondy Tan, Jeqline Thea Lestari, Davina Karamoy, Tere, Reza Rahadian hingga Dantje Mumek maupun Umar bin Khattab Dino Gobel.
Mereka pernah dan ingin memenuhi trayek spiritual itu agar mereka bukan berpaling dari keyakinan lamanya. Tapi, menemukan kembali keyakinan sejati sebagai fitra dan qadarullah mereka dengan hidayah mustahil mudah diraih.
Karena itu, haji(الحج) sebagai trayek spiritual, ke alih bahasa Inggris,, ”pilgrim” atau χατζ (Yunani) punya padanan kalimat: ”kembali ke inti“(act of enjoyning to a holy place).
Meski terkesan mirip tour atau ziarah, berhaji itu merupakan ziarah fisik dan psikis yang ditahbiskan dengan wukuf sebagai penunaian dari manifestasi diri keluar dari rumah Allah(Mekah) menuju ke Allah sendiri di wadah simbolis: Wukuf Arafah.
Puncaknya, para peziarah dengan trayek spiritual itu, akhirnya menabal, di luar itu, dengan ritual berkorban(sacrifice), mazmumah, memotong leher ego yang dipenuhi kenajisan arketipe.
Sebagai akidah dan syariat trayek spiritual, tradisi ritual haji dan sejenisnya sudah lazim dikenal oleh umat manusia. Hal itu, pada hakikatnya, tradisi dan budaya peradaban tua.
Tengok saja, eksodus jemaat Musa, tanha Hinduisme, bodisatwa Buddhisme, Tao(淘) Cina hingga Zen(禅) Jepang, menyerupai praktek ritual dalam trayek spiritual.
Satu trayek spiritual Buddhisme Jepang, Bergbuddhismus”, ibarat sa‘i bukit Safa-Marwah, bisa dibaca dalam satu drama Bertolt Brecht: Der Jasager und Der Neinsager.
Drama “Der Jasager”(The Affirmer) dan “Der Neinsager”(The Refuser), pertama kali dipentaskan pada 23 Juni 1930 di Zentralinstitut für Erziehung und Unterricht di Berlin.
Drama ini sukses dan dipertunjukkan lebih dari 300 kali dalam tiga tahun berikutnya, setelah viral di Berlin.
“Der Jasager” dan “Der Neinsager” merupakan bagian dari Lehrstücke Brecht, yang dirancang untuk memicu diskusi dan refleksi kritis tentang masyarakat dengan keyakinan dan ideologi yang mengaturnya.
Dengan meniru tarekat „Budhhis Pegunungan“, Brecht menarget publiknya dengan metode paradoks trayek spiritual. Ia menyebut, efek isolasi spiritual, Verfremdungseffek.
Dari Kekristenan, target Brecht mirip Via Dolorosa atau Hallakha(חלכה) pada kalangan Yahudi dan sebentar lagi, bulan Muharam, Karbala bagi warga Iran yang lagi gencatan senjata.
Agar sedikit memperkaya literasi wawasan trayek spiritual, khusus haji, ada lima buku populer yang pantas dibaca, pas untuk Tahun Baru Muharam ini:
/1/ Road to Mecca(1954), Leopold Weiss(Terjemahan Mizan, 2003).
/2/The Hadj: An American’s Pilgrimage to Mecca(1993), Michael Wolfe(80), terjemahan Serambi Semesta Ilmu(2003).
/3/ Hajj(1978), Ali Shariati, terjemahan Bandung Pustaka(Cet.8, 2009).
/4/ Orang Jawa Naik Haji(Grafiti, 1984), Danarto.
/5: Orang Batak Naik Haji(KPG,2002), Baharudin Aritonang(73).
Lantas apa hakikat trayek spiritual, haji atau lainnya, itu sendiri? Ya. kembali pada inti dari trayek-trayek spiritual lainnya, syahadat, solat, puasa dan zakat sebagai pilar tawaf peradaban secara historis dan faktual.
Dan juga, sebagai penyanggah kombinatif dan balans tubuh dan roh dengan pasokan reparasi suku cadang spiritual yang masih terselia di meja kuliner ilahi: doa!(*)
