
Gorontalo (beleidnews) – Sidang Senat UNG (Universitas Negeri Gorontalo) dengan agenda Pemberian Pertimbangan Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen dan Pembahasan Draf Peraturan Rektor tentang Sistem Jaminan Mutu Internal, Senin, 14/9, berlangsung ‘panas’. Panas lantaran anggota senat Novianty Djafri tiba-tiba menohok legalitas Dekan Fakultas Kedokteran (Faked) Cecy Rahmah Karim yang juga anggota senat.
Di hadapan puluhan anggota senat yang hadir, Guru Besar Ilmu Pendidikan itu mempersoalkan pengangkatan Cecy sebagai Plt (Pelaksana Tugas) Dekan Faked. Kata Novianty, pengangkatan Cecy telah menyalahi statuta UNG dan peraturan BKN (Badan Kepegawaian Nasional).
Novianty menyebut Cecy bukan dosen tetap UNG dan belum pernah memegang jabatan fungsional Lektor Kepala sehingga itu tidak bisa diangkat begitu saja sebagai dekan. Begitu juga status Plt-nya sudah masuk tahun ketiga, sudah overtime tapi masih terus dipertahankan. Lagi pula, lanjutnya, masa tugas Plt hanya tiga bulan dan bisa diperpanjang hanya sekali. Novianty juga menyebut kewenangan Plt terbatas. Dia lalu mengingatkan kelak di kemudian hari akan muncul masalah hukum atas penunjukan Cecy yang menyalahi aturan itu.
Kendati begitu, ungkap anggota senat yang minta namanya ‘disimpan’ menyebut Cecy balik menanggapi Novianty. Cecy berdalih telah memiliki NIDK (Nomor Induk Dosen Khusus). Bahkan untuk mendukung dalihnya itu dia bilang berhasil membawa Faket meraih Akreditas Unggul. Tapi itu dibantah Novianty bahwa memiliki NIDK bukan dosen tetap. Dosen tetap memiliki NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional). Sedangkan raihan akreditas unggul tidak lantas mengabaikan pelanggaran terhadap statuta dan peraturan BKN.
Sumber anggota senat itu bercerita kalau Novianty seperti tidak peduli lagi dengan status Cecy yang adalah istri tua Eduart Wolok, rektor UNG.
“Nanti rapat kali ini ada anggota senat yang terang-terangan memprotes langsung ke Cecy. Saya lihat dia (Cecy, red) sangat terpukul”, ungkap sumber.
Sumber menambahkan saat perdebatan itu ada seorang anggota senat yang mencoba mengalihkan persoalan Plt, seolah mau memberi kesan membela Cecy.
“Tapi narasinya tidak kuat sehingga yang terbaca justru kesan hendak ‘cari muka’, begitu”, katanya.
Dikonfirmasi, Selasa, 15/9, Novianty membenarkan penyampaiannya seperti tersebut di atas.
“Ya, betul. Itu pelanggaran serius. Harus segera dibenahi. Kalau tidak saya akan bawa kasusnya ke presiden dan DPR”, ancam Novianty. Dia mengaku prihatin dengan pelanggaran yang dibuat rektor tapi dosen dan senat cuma diam. Dia pun mengaku baru seminggu ini mempelajari sisi yuridis penunjukan Cecy sebagai Plt.
Sebelumnya beberapa waktu lalu Novianty pula yang menyarankan Cecy agar segera memiliki NIDN supaya bisa ikut pimilihan rektor Pebruari nanti.
Seperti diketahui, Cecy bukan dosen tetap UNG melainkan ASN pada Pemerintah Kota Gorontalo Unit RSU Aloei Saboe. Dia diangkat Eduart, sang suami sebagai Plt (Pelaksana Tugas) Dekan Faked tiga tahun lalu hingga sekarang. Eduart kepada beleidnews beberapa waktu lalu mengaku mengangkat istrinya itu karena UNG tidak punya SDM juga karena saran beberapa Guru Besar. Tim Investigasi dari Inspektorat Kementerian sudah melakukan pemeriksaan atas pengangkatan Cecy sekitar lima bulan lalu tapi hingga kini tidak ada tindakan.
Koordinator Advokasi dan Litigasi Gorontalo Corruption Watch Hirsam Gustiawan dimintai tanggapannya mengatakan kasus Cecy itu cuma fenomena gunung es.
“Tinggal tunggu moment yang tepat semua akan terkuak”, kata Hirsam.(hj).
