
oleh ReO Fiksiwan
Der Historizismus ist die Ansicht, dass die Geschichte einem Gesetz folgt, das entdeckt und zur Vorhersage verwendet werden kann.“
„Historisisme adalah pandangan bahwa sejarah mengikuti suatu hukum yang dapat ditemukan dan digunakan untuk meramalkan.” — Karl Raymund Popper(1902-1994), Das Elend des Historizismus(2000).
Permesta, sebuah kata yang pernah mengguncang republik muda ini, kini hanya menjadi gema samar di lorong-lorong sejarah yang lebih sibuk mengarsipkan kemenangan daripada mempertanyakan makna.
Sejarahnya ditulis oleh mereka yang menang, atau lebih tepatnya, oleh mereka yang berhasil bertahan hidup dan mewariskan narasi.
Maka, ketika Philip Pantouw(79) menyuarakan bahwa Permesta tidak menyerah dan tidak ditumpas, kita tidak sedang membaca sejarah, kita sedang membaca koreksi terhadap mitos yang telah lama dijadikan dogma.
Barbara S. Harvey(97) menyebutnya “Half a Rebellion”(1977), sebuah pemberontakan setengah hati, tanpa ideologi yang jelas, tanpa massa yang militan.
Tapi mungkin justru di sanalah letak kejujuran Permesta: ia tidak pernah berniat menjadi revolusi, ia hanya ingin menjadi koreksi.
Koreksi terhadap pembangunan yang timpang, terhadap Jakarta yang terlalu sibuk membangun monumen dan melupakan pinggiran. Tapi sejarah tidak suka koreksi.
Sejarah suka narasi besar, suka pahlawan, suka pengkhianat.
Maka Permesta pun dijadikan pengkhianat, agar narasi tetap utuh.
Prof. R.Z. Leirissa, dalam PRRI, Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis(1991) dan Prof. Dr. A. E. Sinolungan(87), dalam Permesta–PRRI: Mengawal Negara Proklamasi 1945 Berdasarkan Pancasila(2016), mencoba mengangkat Permesta dari lumpur stigma itu.
Mereka menulis bahwa Permesta adalah ekspresi frustrasi elite militer dan sipil di Sulawesi Utara terhadap ketimpangan pembangunan.
Demikian halnya, versi jurnalis, Phil M. Sulu(85), dalam Permesta: Dalam Romantika, Kemelut, dan Misteri(2013).
Tapi siapa peduli?
Di negeri ini, frustrasi hanya sah jika datang dari pusat. Dari pinggiran, ia disebut makar.
Jika kita membaca sejarah kritis dengan kacamata mahzab Frankfurt School—Adorno, Horkheimer, Habermas(96), maka Permesta adalah bentuk resistensi terhadap rasionalitas instrumental. Atau, pro naturalisme.
Ia bukan pemberontakan bersenjata, ia adalah kritik terhadap sistem yang mengalienasi daerah dari pusat.
Tapi kritik semacam itu tidak laku di pasar politik. Ia terlalu filosofis, terlalu reflektif, terlalu tidak praktis.
Maka ia dibungkam, dijadikan catatan kaki, atau lebih buruk lagi, dijadikan bahan nostalgia oleh generasi yang bahkan tidak tahu apa itu pembangunan, praksis maupun filosofis?
Popper, diacu dari Das Elend des Historizismus(2000), pencetus sejarah kritis anti-naturalisme, mungkin akan menyebut Permesta sebagai eksperimen sosial yang gagal(Baca: Gagalnya Historisisme, LP3ES, 1980).
Tapi, R.G. Collingwood dalam The Idea of History(1946), akan bertanya: apa makna kegagalan itu?
Apakah kegagalan Permesta adalah kegagalan ide, atau kegagalan kita memahami sejarah sebagai proses, bukan sebagai arsip?
Hegel akan tertawa kecil dan berkata bahwa sejarah adalah dialektika, dan Permesta adalah antitesis yang belum menemukan sintesisnya.
Mendiang Nun Pantouw, pelaku sejarah, kakak dari Philip Pantouw yang gerah atas kritik sejarah Permesta, mungkin akan berkata bahwa Permesta adalah luka yang belum sembuh.
Tapi luka itu tidak pernah diberi ruang untuk sembuh.
Ia hanya dijadikan simbol, dijadikan nama jalan, dijadikan tema seminar.
Seperti mendengar radio transistor di era streaming, Permesta ingin bicara tentang otonomi, tapi yang didengar hanya nostalgia.
Jadi, apakah Permesta itu pemberontakan?
Atau, justru ia adalah satu-satunya gerakan yang jujur dalam sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan?
Gerakan yang tidak ingin menggulingkan negara, tapi ingin memperbaikinya.
Tapi negara tidak suka diperbaiki. Negara suka dipuja.
Maka Permesta pun dijadikan pengkhianat, agar pujian tetap mengalir ke pusat.
Dan kini, ketika generasi baru mencoba membangkitkan semangat Permesta, mereka melakukannya dengan aksen metropolitan, dengan selera dan harun kopi Jakarta, dengan seminar Zoom atau pelbagai bakudapa poros Jakarta-Manado.
Mereka bicara tentang perjuangan lokal, tapi lupa bahwa lokal bukanlah tempat, lokal adalah cara berpikir.
Dan cara berpikir itu telah lama dikalahkan oleh algoritma, oleh modal asing, oleh sistem yang tidak peduli pada manusia.
Permesta bukan sejarah. Ia adalah kritik.
Dan seperti semua kritik yang jujur, ia akan selalu dibungkam, dijadikan mitos, dijadikan nostalgia.
Tapi mungkin justru di sanalah kekuatannya.
Karena dalam sejarah yang hanya ditulis oleh pemenang, Permesta adalah satu-satunya kekalahan yang layak dikenang.
#credit foto: diambil desain poster dan rencana film Permesta dari Veldy Reynold Umbas.
#coverlagu: I Yayat U Santi(Waruga) tanpa tahun rilis.
